Rabu, 09 Mei 2012

PERAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Pengertian tersebut mengidentifikasikan kepada kita bahwa yang termasuk unsur-unsur komunikasi adalah komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek.
Komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung amat efektif, baik antara pengajar dengan pelajar maupun diantara para pelajar sendiri sebab mekanismenya memungkinkan si pelajar terbiasa mengemukakan pendapat secara argumentatif dan mengkaji dirinya, apakah yang telah diketahuinya itu benar atau tidak. Agar jalannya komunikasi berkualitas, maka diperlukan suatu pendekatan komunikasi yaitu; pendekatan secara ontologis (apa itu komunikasi), tetapi juga secara aksiologis (bagaimana berlangsungnya komunikasi yang efektif) dan secara epistemologis (untuk apa komunikasi itu dilaksanakan).
Hal – hal penting yang perlu diperhatikan saat proses informasi untuk komunikasi dalam pembelajaran, antara lain: (1) hal yang akan disampaikan sampai kepada penerima tanpa ada pembiasan isi (subject = outcome), (2) hal yang akan disampaikan setingkat dengan kemampuan siswa dalam menelaah (tingkat intelegensi siswa, pengalaman-pengalaman yang pernah didapat), (3) siswa terikat secara aktif dalam proses belajar dengan cara menghubungkan apa yang mereka dapat sebelumnya dengan hal baru yang akan disampaikan, (4) siswa diminta menunjukkan kemajuan sehingga pencapaiannya dapat dianalisis, umpan balik mendapat respon sehingga terlihat jelas sukses dalam usahanya, dan (5) siswa diberi waktu luang yang cukup untuk berlatih dengan kondisi beragam untuk meyakinkan proses retensi dan tranfer yang sedang terjadi.
Ditinjau dari prosesnya pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan.
Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah pengajar itu disebut guru, sedangkan pelajar disebut dengan murid; pada tingkatan tinggi pengajar dinamakan dengan dosen, sedangkan pelajar dinamakan dengan mahasiswa. Pada tingkatan apapun proses komunikasi antara pelajar dan pengajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta kualitas yang disampaikan oleh si pengajar kepada di pelajar.
Tujuan pendidikan adalah khas atau khusus, yaitu meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya. Jelas perbedaannya dengan tujuan penerangan, propaganda, indoktrinasi dan agitasi sebagaimana disinggung di atas. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Pada umumnya pendidikan berlangsung secara berencana di dalam kelas secara tatap muka (face to face). Karena kelompoknya relatif kecil. Meskipun komunikasi antara pelajar dan pengajar dalam ruang kelas itu termasuk komunikasi kelompok, sang pelajar sewaktu-waktu bisa mengubahnya menjadi komunikasi antarpersona. Terjadilah komunikasi dua arah atau dialog di mana si pelajar menjadi komunikan dan komunikator, demikian pula sang pengajar. Terjadinya komunikasi dua arah ini ialah apabila para pelajar bersikap responsif, mengetengahkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, diminta atau tidak diminta. Jika si pelajar pasif saja dalam arti kata hanya mendengarkan tanpa ada gairah untuk mengekspresikan suatu pernyataan atau pertanyaan, maka meskipun komunikasi itu bersifat tatap muka, tetap saja berlangsung satu arah dan komunikasi itu tidak efektif.
Berdasarkan berbagai latar belakang dan pernyataan diatas, komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar antara seorang guru dengan siswanya. Karena itulah, kelompok kami memilih untuk membahas “ Penerapan Komunikasi yang Efektif dalam Kegiatan Pembelajaran “.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka muncul beberapa masalah yang dapat kami rumuskan sebagai berikut :
1.       Apa yang dimaksud dengan proses belajar mengajar sebagai proses komunikasi?
2.       Bagaiamana menerapkan komunikasi yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran ?
3.       Teori komunikasi apa saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran ?
4.       Bagaimana implementasi teori komunikasi dalam kegiatan belajar di sekolah ?
 
C.      Tujuan Pembahasan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas, maka beberapa tujuan yang ingin kami capai setelah observasi dan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.       Kita bisa memahami pengertian komunikasi dalam pembelajaran.
2.       Mampu menerapkan komunikasi yang efektif  unuk kelancaran proses pembelajaran.
3.       Kita mampu menjelaskan dan memahami teori-teori komunikasi  apa saja yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4.       Mampu menerapak teori-teori tersebut dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
  

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A.  Definisi Komunikasi
Ditinjau dari etimologi, komunikasi berasal dari kata communicare yang berarti “membuat sama”. Definisi kontemporer menyatakan bahwa komunikasi berarti “mengirim pesan”. Menurut (Effendy. 2003: 9) istilah komunikasi (communication) berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Berbicara mengenai definisi komunikasi tidak ada definisi yang salah dan benar secara absolute.
Namun definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada kalimat “mendiskusikan makna”, ”mengirim pesan” dan ”penyampaian pesan lewat media”. Apapun istilah yang dipakai, secara umum komunikasi mengandung pengertian “memberikan informasi, pesan, atau gagasan pada orang lain dengan maksud agar orang lain tersebut memiliki kesamaan informasi, pesan atau gagasan dengan pengirim pesan.

B.  Konsep Komunikasi
Konsep komunikasi menurut John R. Wenburg, William W. Wilmoth dan Kenneth K Sereno dan Edward M Bodaken terbentuk menjadi 3 tipe: pertama, searah: pemahaman ini bermula dari pemahaman komunikasi yang berorientasi sumber yaitu semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon penerima.
Kedua, interaksi: pandangan ini menganggap komunikasi sebagi proses sebab-akibat, aksi-reaksi yang arahannya bergantian. Ketiga, transaksi: konsep ini tidak hanya membatasi unsur sengaja atau tidak sengaja, adanya respon teramati atau tidak teramati namun juga seluruh transaksi perilaku saat berlangsungnya komunikasi yang lebih cenderung pada komunikasi berorientasi penerima. Saat dosen memberi kuliah, komunikasi bukan saja berdasarkan fakta bahwa mahasiswa menafsirkan isi kuliah tetapi juga dosen menafsirkan perilaku anggukan atau kerutan kening mahasiswa.
Jadi, kalau dua orang terlibat dalam komunikasi, misalnya dalam bentuk percakapan, maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan itu belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Dengan lain perkataan, mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Jelas bahwa percakapan antara kedua orang tadi dapat dikatakan komunikatif apabila kedua-duanya, selain mengerti bahasa yang dipergunakan juga mengerti makna dari bahan yang dipercakapkan.

C.  Unsur-unsur komunikasi
1.   Komuniakator (communicator)
Yaitu memberi berita, yang dalam hal ini adalah orang yang berbicara,pengirim berita atau orang yang memberitakan.
2.   Menyampaikan berita,
Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatakan, mengirim atau menyiarkan.
3. Berita
Berita yang disampaikan (message), dapat dalam bentuk perintah, laporan, atau saran.
3.   Komunikan (communicate)
Yaitu orang yang dituju, pihak penjawab atau para pengunjung. Dengan kata lain orang yang menerima berita.
4.   Tanggapan atau reaksi (response), dalam bentuk jawaban atau reaksi. Kelima unsure komunikasi tersebut (Komuniakator, Menyampaikan berita, Berita-berita yang disampaikan, Komunikan dan Tanggapan atau reaksi) merupakan kesatuan yang utuh dan bulat, dalam arti apabila satu unsure tidak ada, maka komunikasi tidak akan terjadi.

D.  Bentuk-bentuk komunikasi
a)  Komunikasi verbal
Yaitu salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan kepada pihak lain baik secara tertulis maupun pesan.
ü  Hasil Observasi:
Berdasarkan observasi dan pengamatanyang kami lakukan. Komunikasi verbal yang kami temukan adalah komunikasi yang dilakukan antara guru dan murid. Dimana komunikasi tersebut termasuk komunikasi secara tertulis. Karena seorang guru yang menyampaikan materi secara tertulis di papan tulis.

b)  Komunikasi non verbal
Komunikasi yang menggunakan bahasa tubuh seperti menggunkan gerakan tangan/tubuh sebagai isyarat suatu perbuatan yang mempunyai arti pesan dalam konteks komunikasi. Mengekspresikan pesan dalam komunikasi dalam bentuk gambar, menggunakan bahasa sikap yaitu bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan/ mengekspresikan pikiran, perasaan seperti bungkam, tak acuh.
ü  Hasil Observasi :
Berdasarkan pengamatan kami di beberapa kelas di SD Pabean 2. Komunikasi verbal juga beberapa kali kami temui, diantaranya : ketika ada beberapa murid yang sedang ramai dan gaduh, guru tersebut kemudian diam dan memanggil nama murid yang bersangkutan sambil mengerutkan dahi. Yang berarti guru tersebut sedang marah.

E.  Jenis komunikasi :
a) Komunikasi individu
Komunikasi yang terjadi dalam diri individu yang berfungsi untuk mengembangkan kreativitas imajinasi, memahmai dan mengendalikan diri serta meningkatkan kematangan berpikir sebelum mengambil keputusan.
b)  Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.
Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator.
Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.
Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini.
Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).

c)   Komunikasi kelompok
Menurut Anwar Arifin komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.
Dari dua definisi di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Menurut Dedy Mulyana kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Pada komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi, karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Sehingga komunikasi kelompok adalah Interaksi tatap muka antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui seperti berbagai informasi, pemecahan masalah mana yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota lain secara tepat.
ü Hasil Observasi :
Berdasarkan hasil observasi kami komunikasi kelompok sangat banyak kami jumpai. Diantaranya ketika ada beberapa siswa yang sedang ngobrol bersama. Ini merupakan suatu proses komunikasi kelompok. Karena mereka terdiri dari lebih 1 orang dan dalam lingkup tertentu.

d) Komunikasi massa
Merupakan tipe komunikasi manusia (human communication) adalah komunikasi umum, pesan yang disampaikan tidak ditujukan pada satu orang saja tapi juga bagi semua orang/ khalayak.
ü  Hasil Observasi :
Untuk kegiatan komunikasi masa ini, jenis komunikasi ini kami temukan ketika seorang guru sedang menjelaskan ataupun menyampaikan materi kepada siswanya. Dan hal ini dikatakan sebagai komunikasi masa karena pesan atau materi tidak hanya untuk sati siswa. Melainkan bagi seluruh siswa dalam kelas.

e)  Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi. Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal.
ü  Hasil Observasi :
Menurut kami, komunikasi organisasi ini muncul dan ada ketika ada beberapa guru ataupun karyawan lain yang berkumpul di dalam ruang guru. Kemudian mereka membahas bagaimana kemajuan siswa dalam belajar dan apa yang harus dilakukan untuk memajukan sekolah tersebut.




F.   Tujuan komunikasi:
a. Menemukan
Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penenmuan diri  (personal discovery). Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara. Tetapi komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar yang dipenuhi objek, peristiwa dan manusia lain.
b.  Untuk berhubungan
Kita menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi untuk membina dan memelihara hubungan sosial dengan orang lain.
c.  Untuk meyakinkan
Media massa ada sebaigan besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Sedikit saja dari komunikasi pribadi kita yang tidak berupa untuk mengubah sikap atau perilaku.
d.  Untuk bermain
Kita menggunkan banyak perilaku komunikasi kota untuk bermain dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari perilaku yang dirancang untuk menghibur orang lain.

G. Prinsip komunikasi:
1)    Prinsip 1    : Komunikasi adalah suatu proses simbolik
2)    Prinsip 2    : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
3)    Prinsip 3    : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
4)    Prinsip 4    : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat
                            kesengajaan
5)    Prinsip 5    : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
6)    Prinsip 6    : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
7)    Prinsip 7    : Komunikasi itu bersifat sistemik
8)    Prinsip 8    : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin
                            efektiflah komunikasi
9)    Prinsip 9    : Komunikasi bersifat nonsekuensial
10)  Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
11)  Prinsip 11  : komunikasi bersifat irreversible
12)  Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan
                            berbagai masalah
H.  Hambatan-hambatan dalam berkomunikasi
Pada sebuah proses komunikasi yang terjadi terkadang kita juga akan mengalami banyak hambatan dalam berkomunikasi. Beberapa Hambatan Komunikasi adalah :
a.       Hambatan sematik Komunikasi yg disebabkan oleh fakor bahasa yg digunakan oleh para pelaku komunikasi
b.       Hambatan mekanik Komunikasi yang disebabkan oleh factor elektrik, mesin atau media lainnya
c.    Hambatan antropologis Hambatan yg disebabkan oleh perbedaan pada diri manusia
d.    Hambatan psikologis Hambatan yg disebabkan oleh factor kejiwaan .

I.    Proses belajar mengajar sebagai proses komunikasi
Proses belajar mengajar dapat dikatakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik) oelh peserta didik/murid.
Guru hendaknya menyadari bahwa didalam kegiatan belajar dan pembelajaran, seungguhnya ia sedang melaksanakan kegiatan komunikasi. Untuk itu guru harus memilih dan menggunakan kata-kata yang berada dalam jangkauan/medan pengalaman murid-muridnya, agar dapat dimengerti dengan baik oleh mereka sehingga pesan pembelajaran yang disampaikan dapat diterima oleh murid dengan baik.
Kegiatan encoding dan decoding dalam proses pembelajaran. Encoding merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan  lambang-lambang yang akan digunakan dalam kegiatan komunikasi oleh komunikator (oleh guru dalam kegiatan pembelajaran). Sedangkan Decoding adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima pesan (audience, murid) dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang oleh komunikator.
Agar penyampaian pesan pembelajaran mencapai “sharing” yang diinginkan maka dilakukan penyampaian dengan lebih konkret dan jelas, selain dengan memilih lambang verbal yang berada dalam medan pengalaman murid. Misalnya menggunkaan alat peraga dan media pembelajaran seperti chart, diagram, grafik, gambar diam dll.
Media pembelajaran dapat digunakan dalam 2 macam cara dalam proses belajar mengajar:
·         Sebagai alat peraga untuk menjelaskan materi pelajaran yang disampaikan keapda murid-murid.
·         Pemanfaatan media pembelajaran sebagai saluran komunikasi berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan pembelajaran terutama oleh media belajar mandiri seperti modul, Computer Based Instruction (CAI).

J.       Komunikasi yang efektif untuk kelancaran proses pembelajaran
Terkait dengan proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif oleh siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang guru.
Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara informal antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara keduabelah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.
Komunikasi dalam bentuk diskusi dalam proses belajar mengajar berlangsung amat efektif, hal ini disebabkan oleh dua hal:
a.    materi yang didiskusikan meningkatkan intelektualitas,
b.    komunikasi dalam diskusi bersifat intracommunication dan intercommunication.
Yang dimaksud dengan intracommunication atau intrakomunikasi adalah komunikasi yang terjadi pada diri seseorang. Ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri sebagai persiapan untuk melalukan intercommunication dengan orang lain.
Untuk menyamakan makna antara guru/dosen dan siswa ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian:
1.    Semua komponen dalam komunikasi pembelajaran diusahakan dalam kondisi ideal/baik:
a. pesan (message) harus jelas, sesuai dengan kurikulum, terstruktur secara jelas, menarik dan sesuai dengan tingkat intelejensi siswa.
b. Sumber/guru harus berkompetensi terhadap materi ajar, media yang digunakan, mampu menyandikan dengan jelas, mampu menyampaikan tanpa pembiasan dan menarik perhatian serta mampu membangkitkan motivasi diri dan siswa dalam proses interaksi dan transaksi komunikasi.
c.  penerima/siswa harus dalam kondisi yang baik/sehat untuk tercapainya prasyarat pembelajaran yang baik.
d. lingkungan (setting) mampu mendukung penuh proses komunikasi misalnya pencahayaan, kenyamanan ruang dan sebagainya.
e. materi/media software dalam kondisi baik/tidak rusak (sesuai dengan isi/pesan).
f. alat (device) tidak rusak sehingga tidak membiaskan arti (audiovisual). Media yang menarik (dapat dilihat dan didengar) akan memudahkan siswa dalam retensi dan pengingatan kembali pesan yang pernah didapat.
g. teknik/prosedur penggunaan semua komponen pembelajaran harus memiliki instruksi jelas dan terprogram dalam pengelolaan.
2.    Proses encoding dan decoding tidak mengalami pembiasan arti/makna.
3. Penganalogian harus dilakukan untuk membantu membangkitkan pengertian baru dengan pengertian lama yang pernah mereka dapat.
4.    Meminimalisasi tingkat gangguan (barrier/noise) dalam proses komunikasi mulai dari proses penyandian sumber (semantical), proses penyimbolan dalam software dan hardware (mechanical) dan proses penafsiran penerima (psychological).
5.    Feedback dan respons harus ditingkatkan intensitasnya untuk mengukur efektifitas dan efisiensi ketercapaian.
6.    Pengulangan (repetition) harus dilakukan secara kontinyu maupun progresif.
7.    Evaluasi proses dan hasil harus dilakukan untuk melihat kekurangan dan perbaikan.
8.    Aspek pendukung dalam komunikasi; fisik, psikologi, sosial dan waktu harus dibentuk dan diselaraskan dengan kondisi komunikasi yang sedang berlangsung agar tidak menghambat proses komunikasi pembelajaran.

 K.      Teori komunikasi yang bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran
Beberapa teori komunikasi yang bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar adalah :
1.       Teori Humanisme
Kurikulum ini menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa. Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat. The deepest goal or purpose is to develop the whole persons within a human society. (McNeil,1977)

2.       Teori Konstruktvisme
Jean Piaget dan Leu Vygotski adalah dua nama yang selalu diasosiasikan dengan kontruktivisme. Ahli kontruktivisme menyatakan bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan, mereka menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua.

3.       Teori Sibernetika
Istilah sibernetika berasal dari bahasa Yunani (Cybernetics berarti pilot). Istilah Cybernetics yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sibernetika, pertama kali digunakan tahun 1945 oleh Nobert Wiener dalam bukunya yang berjudul Cybernetics. Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan. Seiring perkembangan teknologi informasi yang diluncurkan oleh para ilmuwan dari Amerika sejak tahun 1966, penggunaan komputer sebagai media untuk menyampaikan informasi berkembang pesat.

4.       Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Menurut teori conditioning (Ivan Petrovich Pavlo:1849-1936), belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

5.       Teori Operant Conditioning (Skinner)
Skinner (1904-1990), menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.

6.       Teori Conectionism (Thorndike)
Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi buta jika dalam usaha mencoba-coba itu secara kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.

7.       Teori Systematic Behavior (Hull)
Clark C Hull mengikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar. Prinsip-prinsip yang digunakanya mirip dengan apa yang dikemukakan oleh para behavioris yaitu dasar stimulus-respon dan adanya reinforcement. Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.
Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon yang dibuat individu itu.
Setiap obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan) pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.

L.      Implementasi teori komunikasi dalam kegiatan belajar di sekolah
1.       Teori Humanistic
Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar yang tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.
Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.
Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Orientasi yang mendukung saat ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara psikologis, emosional dan fisikal. Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa ini adalah hal yang penting, mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal.

Contoh Kasus :
1.   Kasus 1 (Kelas III)
Dalam observasi yang kita lakukan di SD Pabean 2, sepertinya teori humanistic ini belum diterapkan oleh beberapa guru. Hal ini dibuktikan dengan observasi pertama yang kita lakukan di kelas III SD Pabean 2.
Guru tersebut hanya monotone duduk di depan sambil membaca. Padahal, berdasarkan teori humanistic, seharusnya guru tersebut lebih memacu murid untuk meningkatkan semangat dengan memberikan contoh materi berdasarkan lingkungan yang mereka lihat. Dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti.

2.   Kasus 2 (Kelas III)
Dalam kelas kedua yang kami amati, berbeda dengan kelas sebelumnya. Apabila pada kelas sebelumnya guru yang mengajar kurang begitu aktif, di kelas kedua, yaitu di kelas 1B ini guru yang mengajar sangat aktif dan selalu memantau seluruh muridnya mulai dari yang paling depan sampai paling belakang. Dan selalu berusaha mendekati muridnya.

2.       Teori Konstruktvisme
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman.
Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka.
Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan.
Contoh kasus :
1.   Kasus 1 (Kelas 3)
Masih dalam kelas yang sama, dalam kelas pertama yang kami observasi, hal ini juga belum kami temui. Dimana di kelas ini belum ada pembelajaran siswa secara aktif. Karena pusat informasi hanya ada pada guru mereka yang ada di depan kelas. Guru tersebut sama sekali tidak berusaha mencari informasi apa yang dimiliki siswa-siswanya.
2.   Kasus 2 (Kelas 1B)
Sama pada teori sebelumnya, apabila di kelas pertama yang kami amati belum ada keaktifan di kelas. Pada kelas kedua yang kami amati ini meskipun belum semua siswanya aktif. Tetapi sudah ada beberapa siswa yang aktif menjawab, dan gurunya juga sangat aktif memotivasi muridnya.

3.       Teori Sibernetik
Teknologi ini juga dimanfaatkan dunia pendidikan terutama guru untuk berkomunikasi sesama relasi, mencari handout (buku materi ajar), menerangkan materi pelajaran atau pelatihan, bahkan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Prinsip dasar teori sibernetik yaitu menghargai adanya 'perbedaan', bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai : INPUT => PROSES => OUTPUT.

Contoh kasus :
1.   Kasus 1 (kelas 1B)
Dalam observasi yang kami lakukan, teori ini kami jumpai pada kelas yang kedua. Yaitu di kelas 1B. Dimana kelas 1B ini merupakan kelas yang sangat spesial. Dalam kelas ini hanya ada 10 murid. Berbeda dengan kelas 1A yang terdiri dari lebih dari 20 murid. Kelas 1B ini merupakan siswa-siswa yang membutuhkan perhatian khusus dari para guru. Karena kurang bisa mengikuti beberapa materi pelajaran yang diberikan.
Dalam kelas ini, kami melihat seorang guru yang dengan sabar menyamakan pendapat dari beberapa siswa yang saling berargument. Disini seorang guru menghargai adanya perbedaan dari beberapa muridnya. Tapi, pada akhirnya tetap menghasilkan output yang sama.

4.       Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya.
Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata-mata tergantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya.
Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubungkan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak-anak kecil.

Contoh Kasus :
1.   Kasus 1 (kelas 1B)
Penerapan teori ini juga kami temukan pada pembelajaran yang dilakukan pada kelas 1B. Dimana guru tersebut memberikan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan siswanya yang merupakan siswa-siswa pilihan. Jadi, dengan adanya latihan-latihan tersebut seorang guru berharap siswanya akan lebih mudah dan terampil dalam menjawab soal.
2.   Kasus 2 (kelas 3)
Apabila sebelumnya antara dua kelas yang kami amati selalu berbeda. Kali ini pada teori ini kedua guru tersebut menggunakan cara yang sama. Yaitu dengan memberikan soal-soal latihan.dan di kelas 3 ini, selalu dibiasakan untuk mengoreksi jawaban bersama.
 5.       Teori Operant Conditioning (Skinner)
Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip belajar Skinners adalah :
·     Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat.
·     Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul.
·     Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.
·     Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.
·     Dalam pembelajaran digunakan shapping.

Contoh Kasus :
1.   Kasus 1 (Kelas 1B)
Dalam teori ini seorang guru harus memberikan stimulus yang menarik siswa. Untuk bisa mendapatkan respon yang baik juga. Sehingga, pada kelas yang kami temui, seorang guru memberikan stimulus berupa hadiah. Hadiah tersebut berupa permen. Dan hanya diberikan pada siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Dengan begitu, para siswa akan lebih antusias dan bersemangat dalam menjawab peertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
2.   Kasus 2 (Kelas 3)
Dalam kelas 3 ini, selama kami melakukanpengamatan. Guru tersebut tidak memberikan stimulus sama sekali. Sehingga kegiatan belajar terasa jenuh dan membuat siswa bosan.

6.       Teori Conectionism (Thorndike)
Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:
1 ) trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan), dan
2) law of effect; Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menyenangkanakan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis.
Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat-syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada perangsang yang mempengaruhi dirinya.
Terjadinya otomatisme dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu. Dalam kehidupan sehari-hari law of effect itu dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan.
Akan tetapi menurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pendidikan ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan. Karena adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasil biaya (effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori Thorndike disebut juga Connectionism.

Contoh Kasus :
1.   Kasus 1 (Kelas 1B)
Dalam teori ini. Penerapannya masih kami jumpai pada kelas yang sama dimana seorang guru kelas 1. Guru tersebut terus memacu siswa-siswanya dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Meskipun jawaban tersebut salah.
Jadi, pada kelas ini guru tersebut menggunakan teori trial and error. Jadi, terus mencoba menjawab, sampai jawaban yang disampaikan siswa  tersebut benar.

7.    Teori Systematic Behavior (Hull)
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang.
Jadi, prinsip yang utama adalah suatu kebutuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.

Contoh Kasus :
1.   Dalam observasi yang kami lakukan, belum ada kelas yang menerapkan teori ini. Dimana pada teori ini seorang guru menyampaikan tujuan ataupun manfaat apabila mempelajari mata pelajaran tersebut. Sehingga belum ada motivasi yang dilakukan seorang guru sebelum memulai aktivitas belajar mengajar.
2.   Selain itu, dalam pengajaran di kelas 1B ditemukan kasus guru yang memotivasi siswanya dengan cara memberikan pujian kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar maka guru tersebut mengucapkan kalimat “YA JAWABANNYA BENAR BOLEH ISTIRAHAT” sebagai motivasi kepada siswa agar siswa memberikan yang baik yaitu dengan lebih giat belajar agar bisa menjawab pertanyaan dengan benar.



BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
1.   Proses belajar mengajar dapat dikatakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (guru, instruktur, media pembelajaran dll) kepada penerima (peserta didik, murid) dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik) oelh peserta didik/murid.

2.   Komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif oleh siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang guru.

3.   Teori-teori komunikasi yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran adalah :
a.    Teori Humanistic
b.   Teori Konstruktvisme
c.    Teori Sibernetik
d.   Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
e.    Teori Operant Conditioning (Skinner)
f.    Teori Conectionism (Thorndike)
g.   Teori Systematic Behavior (Hull)

4.   Efektifitas sebuah proses komunikasi tergantung pada komponen yang terkait. Semakin baik komponen, gangguan-gangguan akan tereduksi. Feedback dan respon akan lebih mudah dibangkitkan. Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan satu bentuk komunikasi yang terjalin antara komunikator dalam hal ini pengajar yang menyalurkan pesan berupa materi pengajaran kepada komunikan yaitu pelajar melalui media lisan atau dengan bantuan teknologi komunikasi lain, sebagai akibatnya pelajar tahu materi yang disampaikan dan melaksanakannya dan inilah tujuan utama dari proses belajar mengajar. Kemampuan/keterampilan guru dalam melakukan kegiatan komunikasi akan mempengaruhi proses yang akhirnya berujung pada hasil. Bukan berarti murid yang cerdas disebabkan oleh kemampuan guru dalam melakukan komunikasi. Setidaknya murid yang kurang pandai mampu menelaah pesan/gagasan yang ditransfer dalam proses komunikasi yang baik oleh seorang guru yang terampil.

B.      Saran 
Berdasarkan latar belakang masalah yang muncul, sampai pada pembahasan beberapa rumusan masah diatas. Maka diharapkan :
1.   Seorang guru lebih memperhatikan kondisi dan situasi kelas sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
2.   Sebaiknya seorang guru lebih memahami metode pembelajaran seperti apa yang sesuai dengan kedaan kelas dan siswanya.
3.   Selain dari segi tenaga pendidik, siswa sehaeusnya juga bisa lebih memperhatikan para guru mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar